Petunjuk Teknis Permen Nomor 194/KEP/M/IX/1998 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam dan Unit Simpan Pinjam

By | 10 Oktober 2017

PETUNJUK PELAKSANAAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN UNIT SIMPAN PINJAM

NO.194/KEP/M/IX/1998

25 SEPTEMBER 1998

  1. Pengertian

Dalam petunjuk pelaksanaan ini, yang dimaksud dengan:

  1. Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam dan Unit Simpan Pinjam adalah kondisi atau keadaan koperasi, yang dinyatakansehat, cukup sehat, kurang sehat, dan tidak sehat.
  2. Modal sendiri KSP adalah jumlah simpanan pokok, simpanan wajib, hibah, modal penyertaan dan cadangan yang disisihkan dari Sisa Hasil Usaha dan dalam kaitannya dengan penilaian kesehatan dapat ditambah dengan 50% modal penyertaan.
  3. Modal sendiri USP adalah modal tetap USP, terdiri dari modal yang disetor pada awal pendirian, modal tambahan dari koperasi yang bersangkutan, cadangan yang disisihkan dari keuntungan USP.
  4. Pinjaman yang diberikan adalah dana yang dipinjamkan dan dana tersebut ada di tangan peminjam atau sisa dari pinjaman pokok tersebut masih belum dikembalikan oleh si peminjam.
  5. Pinjaman diberikan yang berisiko adalah dana yang dipinjamkan oleh koperasi kepada peminjam yang tidak mempunyai agunan yang memadai dan atau jaminan dari penjamin atau avalis yang dapat diandalkan atas pinjaman yang diberikan tersebut.
  6. Penjamin adalah anggota yang dapat diandalkan termasuk kelompok anggota yang bersedia menjamin pelunasan dengan tanggung renteng.
  7. Tanggung renteng adalah tanggung jawab bersama di antara anggota atau di satu kelompok atas segala kewajiban mereka terhadap koperasi dengan berdasarkan keterbukaan dan saling percaya.
  8. Aktiva produktif adalah kekayaan koperasi yang mendatangkan penghasilan bagi koperasi yang bersangkutan.
  9. Risiko pinjaman bermasalah adalah perkiraan risiko pinjaman yang kemudian tidak tertagih.
  10. Cadangan risiko adalah dana yang disisihkan dari sisa hasil usaha setelah pajak yang dicadangkan untuk menutup risiko apabila terjadi pinjaman macet.
  11. Rentabilitasadalah kemampuan koperasi untuk memperoleh sisa hasil usaha.
  12. Likuiditasadalah kemampuan koperasi untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.
  13. Return on Assetadalah perbandingan antara sisa hasil usaha sebelum pajak yang diperoleh dengan kekayaan yang dimiliki koperasi.
  14. Rasioadalah perbandingan.
  15. Bobot Penilaian Aspek dan Komponen
  16. Dalam melakukan penilaian kesehatan KSP/USP, maka terhadap aspek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat 2 Surat Keputusan ini diberikan bobot penilaian sesuai dengan besarnya pengaruh terhadap kesehatan koperasi tersebut.
  17. Penilaian aspek dilakukan dengan menggunakan sistem nilai kredit ataureward system yang dinyatakan dalam angka dengan nilai kredit 0 sampai dengan 100.
  18. Bobot penilaian terhadap aspek dan komponen tersebut ditetapkan sebagai berikut.

Tabel 1. Bobot Penilaian Terhadap Aspek dan Komponen

Rasio Modal

%

Nilai Kredit Bobot

%

Skor
0

5

10

15

20

0

25

50

75

100

10

10

10

10

10

0

2.50

5.00

7.50

10.00

III. Cara Penilaian Untuk Memperoleh Angka Skor

  1. Permodalan

1.1. Untuk memperoleh rasio antara modal sendiri terhadap total asset ditetapkan sebagai berikut:

  1. Untuk rasio permodalan lebih kecil atau sama dengan nol, diberikan nilai kredit 0.
  2. Untuk setiap kenaikan rasio modal 1% mulai dari 0%, nilai kredit ditambah 5 dengan maksimum nilai 100.
  3. Nilai kredit dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor permodalan.

Tabel 2. Contoh Perhitungan

No Aspek yang Dinilai Komponen Bobot Penilaian %
1 Permodalan 20
A. Rasio Modal Sendiri terhadap Total Asset 10
B. Rasio Modal Sendiri terhadap Pinjaman yang Diberikan Berisiko 10
2 Kualitas Aktiva Produktif 30
A. Rasio Volume Pinjaman pada Anggota terhadap Total Volume Pinjaman Diberikan 10
B. Rasio Risiko Pinjaman Bermasalah terhadap Pinjaman Diberikan 10
C. Rasio Cadangan Risiko terhadap Risiko Pinjaman Bermasalah 10
3 Manajemen 25
A. Permodalan 5
B. Aktiva 5
C. Pengelolaan 5
D. Rentabilitas 5
E. Likuiditas 5
4 Rentabilitas 15
A. Rasio SHU Sebelum Pajak terhadap Pendapatan Operasional 5
B. Rasio SHU Sebelum Pajak terhadap Total Asset 5
C. Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional 5
5 Likuiditas 10
Rasio Pinjaman yang Diberikan terhadap Dana yang Diterima 10

1.2. Untuk memperoleh rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan berisiko ditetapkan sebagai berikut:

  1. Untuk rasio permodalan lebih kecil atau sama dengan nol diberikan nilai kredit 0.
  2. Untuk setiap kenaikan rasio modal 1% mulai dari 0% nilai kredit ditambah dengan maksimum nilai 100.
  3. Nilai kredit dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor permodalan.

Tabel 3. Contoh Perhitungan

Rasio Modal

%

Nilai Kredit Bobot

%

Skor
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

10

10

10

10

10

10

10

10

10

10

10

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

  1. Kualitas Aktiva Produktif

Penilaian terhadap kualitas aktiva produktif didasarkan pada 2 rasio, yaitu antara risiko pinjaman bermasalah dengan pinjaman yang diberikan dan rasio antara cadangan risiko dengan pinjaman bermasalah.

2.1. Pinjaman bermasalah terdiri dari:

  1. Pinjaman Kurang Lancar

Pinjaman digolongkan kurang lancar apabila memenuhi kriteria di bawah ini:

1) Pengembalian pinjaman dilakukan dengan angsuran yaitu

  1. a)Terdapat tunggakan angsuran pokok sebagai berikut:
  • Tunggakan melampaui 1 bulan dan belum melampaui 2 bulan bagi pinjaman dengan masa angsuran kurang dari 1 bulan; atau
  • Tungakan melampaui 3 bulan dan belum melampaui 6 bulan bagi pinjaman yang masa angsurannya ditetapkan bulanan, 2 bulanan atau 3 bulanan; atau
  • Tunggakan melampaui 6 bulan dan belum melampaui 12 bulan bagi pinjaman yang masa angsurannya ditetapkan 6 bulanan atau lebih; atau
  1. b)Terdapat tunggakan bunga sebagai berikut:
  • Tunggakan melampaui 1 bulan, tetapi belum melampaui 3 bulan bagi pinjaman yang masa angsurannya lebih dari 1 bulan; atau
  • Tunggakan melampaui 3 bulan, tetapi belum melampaui 6 bulan bagi pinjaman yang masa angsurannya lebih dai 1 bulan.

2) Pengembalian pinjaman tanpa angsuran yaitu:

  1. a)Pinjaman belum jatuh tempo
  • Terdapat tunggakan bunga melampaui 3 bulan tetapi belum melampaui 6 bulan.
  1. b)Pinjaman telah jatuh tempo dan belum dibayar, tetapi belum melampaui 3 bulan.
  2. Pinjaman yang Diragukan

Pinjaman digolongkan diragukan apabila pinjaman yang bersangkutan tidak memenuhi kriteria kurang lancar tetapi berdasarkan penilaian dapat disimpulkan bahwa:

1) Pinjaman masih dapat diselamatkan dan agunannya bernilai sekurang-kurangnya 75% dari hutang peminjam, termasuk bunganya; atau

2) Pinjaman tidak dapat diselamatkan tetapi agunannya masih bernilai sekurang-kurangnya 100% dari hutang peminjam.

  1. Pinjaman Macet

Pinjaman digolongkan macet apabila:

1) Tidak memenuhi kriteria kurang lancar dan diragukan; atau

2) Memenuhi kriteria diragukan tetapi dalam jangka waktu 21 bulan sejak digolongkan diragukan belum ada pelunasan atau usaha penyelamatan.

3) Pinjaman tersebut penyelesaiannya telah diserahkan kepada Pengadilan Negeri atau telah diajukan penggantian ganti rugi kepada perusahaan asuransi kredit.

2.2. Untuk mengukur rasio antara volume pinjaman kepada anggota terhadap volume pinjaman diberikan ditetapkan sebagai berikut:

  1. Untuk rasio sama dengan atau lebih besar 60% diberikan nilai kredit 100.
  2. Untuk rasio lebih kecil 60% diberikan kredit 0.
  3. Nilai kredit dikalikan bobot 10% diperoleh skor.

Tabel 4. Contoh Perhitungan

Rasio

%

Nilai Kredit Bobot

%

Skor
≥ 60

≤ 60

100

0

10

10

10

0

2.3. Untuk memperoleh rasio antara risiko pinjaman bermasalah terhadap pinjaman yang diberikan, ditetapkan sebagai berikut:

  1. Menghitung besarnya risiko pinjaman bermasalah yaitu sebesar jumlah dari:

1) 50% dari pinjaman diberikan yang kurang lancar

2) 75% dari pinjaman diberikan yang diragukan

3) 100% dari pinjaman diberikan macet

  1. Hasil penjumlahan tersebut dibagi dengan pinjaman yang diberikan
  2. Perhitungan penilaian:

1) Untuk rasio 50% atau lebih diberi nilai kredit 0

2) Untuk penurunan rasio 1% nilai kredit ditambah 2 dengan maksimum nilai 100

3) Nilai dikalikan dengan bobot 10% diperoleh skor

Tabel 5. Contoh Perhitungan

Rasio

%

Nilai Kredit Bobot

%

Skor
> 50

45

40

30

20

10

1

0

10

20

40

60

80

100

10

10

10

10

10

10

10

0

1.00

2.00

4.00

6.00

8.00

10.00

2.4. Rasio cadangan risiko dengan risiko pinjaman bermasalah dihitung dengan cara penilaian sebagai berikut:

  1. Untuk rasio 0% (tidak mempunyai cadangan risiko) diberi nilai 0
  2. Untuk setiap kenaikan 1% mulai dari 0%, maka nilai kredit tersebut ditambah 1 sampai dengan maksimum 100
  3. Nilai dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor

Tabel 6. Contoh Perhitungan

Rasio

%

Nilai Kredit Bobot

%

Skor
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

10

10

10

10

10

10

10

10

10

10

10

0

1.00

2.00

3.00

4.00

5.00

6.00

7.00

8.00

9.00

10.00

  1. Penilaian Manajemen

3.1. Penilaian manajemen meliputi beberapa komponen yaitu permodalan, kualitas aktiva produktif, pengelolaan, rentabilitas dan likuiditas.

3.2. Perhitungan nilai kredit didasarkan kepada hasil penilaian atas jawaban pertanyaan manajemen sebanyak 25.

Selanjutnya dilakukan kuantifikasi dengan cara memberikan nilai kredit sebesar 4 untuk setiap aspek yang dinilai positif. Nilai kredit dikalikan bobot sebesar 25%, maka diperoleh skor manajemen.

Tabel 7. Contoh Perhitungan

Positif Nilai Kredit Bobot

%

Skor
1

5

10

15

20

25

4

20

40

60

80

100

25

25

25

25

25

25

1.00

5.00

10.00

15.00

20.00

25.00

  1. Penilaian Rentabilitas

Penilaian kuantitatif terhadap rentabilitas didasarkan pada 3 rasio, yaitu rasio SHU sebelum dikenakan pajak terhadap pendapatan operasional, rasio SHU sebelum dikenakan pajak terhadap total asset tersebut dan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional.

4.1. Perhitungan nilai rasio SHU sebelum dikenakan pajak dalam satu tahun buku terhadap pendapatan operasional, adalah sebagai berikut:

  1. Untuk rasio 0 atau negatif diberi nilai kredit 0
  2. Untuk setiap kenaikan SHU 1% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 20 sampai dengan maksimum 100
  3. Nilai kredit dikalikan dengan bobot sebesar 5% diperoleh skor.

Tabel 8. Contoh Perhitungan

Rasio

%

Nilai Kredit Bobot

%

Skor
0

1

2

3

4

5

0

20

40

60

80

100

5

5

5

5

5

5

0

1.0

2.0

3.0

4.0

5.0

4.2. Perhitungan nilai rasio SHU sebelum dikenakan pajak dalam satu tahun buku terhadap total asset tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Untuk rasio 0 atau negatif diberi nilai kredit 0
  2. Untuk setiap kenaikan SHU 1% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 10 sampai dengan maksimum 100
  3. Nilai kredit dikalikan dengan bobot sebesar 5% diperoleh skor

Tabel 9. Contoh Perhitungan

Rasio

%

Nilai Kredit Bobot

%

Skor
0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

5

5

5

5

5

5

5

5

5

5

5

0

0.50

1.00

1.50

2.00

2.50

3.00

3.50

4.00

4.50

5.00

4.3. Cara perhitungan nilai kredit dari rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional dalam periode satu tahun buku dilakuka sebagai berikut:

  1. Untuk rasio 100% atau lebih diberi nilai kredit 0
  2. Untuk setiap penurunan rasio sebesar 1% mulai dari 100% nilai kredit ditambah 10 sampai denga maksimum 100
  3. Nilai kredit dikalikan dengan bobot sebesar 5% diperoleh skor

Tabel 10. Contoh Perhitungan

Rasio

%

Nilai Kredit Bobot

%

Skor
100

99

98

97

96

95

94

93

92

91

90

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

5

5

5

5

5

5

5

5

5

5

5

0

0.50

1.00

1.50

2.00

2.50

3.00

3.50

4.00

4.50

5.00

  1. Penilaian Likuiditas

Penilaian kuantitatif merupakan likuidtas didasarkan atas rasio antara pinjaman yang diberikan terhadap dana yang diterima. Dana yang diterima terdiri dari modal sendiri, modal pinjaman, modal penyertaan dan simpanan anggota.

Cara perhitungan nilai kredit dari likuiditas dilakukan sebagai berikut:

  • Untuk rasio 90% atau lebih, diberi nilai kredit 0
  • Untuk rasio di bawah 90%, diberi nilai kredit 100
  • Nilai kredit dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor likuiditas.

Tabel 11. Cara Perhitungan

Rasio

%

Nilai Kredit Bobot

%

Skor
90

< 90

0

100

10

10

0.00

10.00

  1. Penetapan Kesehatan Koperasi

Berdasarkan hasil perhitungan penilaian terhadap komponen sebagaimana dimaksud angka 1 sampai dengan 5, diperoleh skor secara keseluruhan. Skor dimaksud dipergunakan untuk menetapkan predikat tingkat kesehatan KSP/USP yang dibagikan dalam 4 golongan yaitu sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat.

Penetapan predikat tingkat kesehatan KSP/USP tersebut adalah sebagai berikut:

SKOR PREDIKAT
81 – 100 SEHAT
66 – < 81 CUKUP SEHAT
51 – <66 KURANG SEHAT
0 – < 51 TIDAK SEHAT
  1. Faktor Lain yang Mempengaruhi Penilaian

Meskipun kuantifikasi dari komponen-komponen penilaian tingkat kesehatan menghasilkan skor tertentu, masih perlu dianalisa dan diuji lebih lanjut dengan komponen lain yang tidak termasuk dalam komponen penilaian dan atau tidak dapat dikuantifikasikan. Apabila dalam analisa dan pengujian lebih lanjut terdapat tingkat inkonsistensi atau ada pengaruh secara material terhadap tingkat kesehatan KSP/USP, maka hasil dari penilaian yang telah dikuantifikasikan tersebut perlu dilakukan penyesuaian sehingga dapat mencerminkan tingkat kesehatan yang sebenarnya.

Penyesuaian dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Koreksi Penilaian

Faktor-faktor yang dapat menurunkan satu tingkat kesehatan KSP/USP antara lain:

  1. Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan intern maupun ekstern
  2. Salah pembukuan atau tertunda pembukuan
  3. Pemberian pinjaman yang tidak sesuai dengan prosedur
  4. Tidak menyampaikan laporan tahuban atau laporan berkala 3 kali berturut-turut
  5. Mempunyai volume pinjaman di atas Rp 1.000.000.000,00 tetapi tidak diaudit oleh akuntan publik
  6. Manajer USP belum diberikan wewenang penuh untuk mengelola usaha
  7. Kesalahan Fatal

Faktor-faktor yang dapat menurunkan tingkat kesehatan KSP/USP langsung menjadi tidak sehat, antara lain:

  1. Adanya perselisihan intern yang diperkirakan akan menimbulkan kesulitan dalam koperasi yang bersangkutan
  2. Adanya campur tangan pihak di luar koperasi atau kerja sama yang tidak wajar sehingga prinsip koperasi tidak dilaksanakan dengan baik
  3. Rekayasa pembukuan atauwindow dressing dalam pembukuan sehingga mengakibatkan penilaian yang keliru terhadap koperasi
  4. Melakukan kegiatan usaha koperasi tanpa membukukan dalam koperasinya.
  5. Penutup

Dengan berpedoman pada Petunjuk Pelaksanaan tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam atau Unit Simpan Pinjam Koperasi sebagaimana dikemukakan di atas, diharapkan kepada aparat Pembina Koperasi Simpan Pinjam atau Unit Simpan Pinjam Koperasi dan gerakan baik di tingkat pusat maupun daerah dapat melakukan penilaian terhadap perkembangan kegiatan usaha Koperasi Simpan Pinjam atau Unit Simpan Pinjam Koperasi yang ada di wiliyahnya masing-masing.

Lampiran. Aspek Manajemen yang Dinilai

Permodalan

  1. Tingkat pertumbuhan modal sendiri sama atua lebih besar dari tingkat pertumbuhan asset. ( …… )
  2. Tingkat pertumbuhan modal sendiri yang berasal dari anggota sekurang-kurangnya sebesar 10% dibandingkan tahun sebelumnya. ( …… )
  3. Penyisihan cadangan dari SHU sama atau lebih besar dari seperempat SHU tahun lalu. ( …… )
  4. Simpanan (tabungan dan simpanan berjangka koperasi) meningkat minimal 10% dari tahun sebelumnya. ( …… )
  5. Investasi harta tetap dan inventaris serta biaya ekspansi perkantoran dibiaya dengan modal sendiri. ( …… )

Kualitas Asset

  1. Pinjaman lancar minimal sebesar 90% dari pinjaman yang diberikan. ( …… )
  2. Setiap pinjaman yang diberikan didukung dengan agunan yang nilainya sama atau lebih besar dari pinjaman yang diberikan. ( …… )
  3. Dana cadangan penghapusan pinjaman sama atau lebih besar dari tahunan pinjaman macet. ( …… )
  4. Pinjaman macet tahun lalu dapat ditarik sekurang-kurangnya sepersepuluh. ( …… )
  5. Koperasi senantiasa memantau agar prosedur pinjaman dilaksanakan dengan baik. ( …… )

Pengelolaan

  1. Memiliki rencana kerja jangka pendek (tahunan) yang meliputi penghimpunan simpanan dan pinjaman, pendanaan, pendapatan dan biaya serta personalia. ( …… )
  2. Memiliki bagan organisasi yang memuat secara jelas garis wewenang dan tanggung jawab setiap unit kerja dan disiplin kerja. ( …… )
  3. Mempunyai sistem dan prosedur tertulis mengenai pengendalian intern tentang pengamanan asset koperasi yang mencakup kas, harta tetap dan harta likuid lainnya. ( …… )
  4. Memiliki program pendidikan dan latihan bagi pegawai dan anggota. ( …… )
  5. Memiliki kebijakan tertulis yang mengatur bahwa pangurus dan manajemen tidak diperbolehkan memanfaatkan posisi dan kedudukan untuk kepentingan pribadi. ( …… )

Rentabilitas

  1. Memiliki ketentuan tentang penyisihan penghapusan piutang cadangan risiko untuk menutup kerugian yang diperkirakan karena macet. ( …… )
  2. Memiliki ketentuan bahwa semua pengeluaran dan biaya harus didukung dengan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. ( …… )
  3. Memiliki ketentuan tidak akan memberikan pinjaman yang bersifat spekulatif, yaitu pinjaman yang menghasilkan keuntungan yang tinggi tetapi berisiko tinggi. ( …… )
  4. Memiliki ketentuan mengenai pembatasan pemberian pinjaman kepada anggota baru. ( …… )
  5. Dalam pemberian pinjaman, koperasi lebih menitikberatkan atas kemampuan peminjam untuk mengembalikan pinjamannya daripada tersedianya agunan. ( …… )

Likuiditas

  1. Memiliki kebijaksanaan tertulis mengenai pengendalian likuiditas. ( …… )
  2. Memiliki fasilitas pinjaman yang akan diterima dari lembaga lain untuk menjaga likuiditasnya. ( …… )
  3. Memiliki pedoman administratif yang efektif untuk memantau kewajiban jatuh tempo. ( …… )
  4. Memiliki ketentuan yang mengatur hubungan antara jumlah pemberian pinjaman dengan jumlah dana yang ada. ( …… )
  5. Memiliki sistem informasi manajemen yang memadai untuk pemantauan likuiditas. ( …… )

Leave a Reply